7 unsur kebudayaan sumatera selatan

ContohModel Pakaian Adat Sumatera Selatan – Indonesia ialah negara dengan budaya paling besar di dunia, sehingga bukan rahasia umum banyak turis asing yang singgah ke Indonesia sebab sebenarnya tertarik bersama dengan ragam budaya yang tersedia di negara ini. Berbicara mengenai budaya, masih tersedia hubungannya bersama dengan Baju Batik yang Kegiatantersebut dihadiri juga oleh Dirjen Pertanian Pusat, para Bupati Kabupaten tetangga, Forkopimda Provinsi dan Kabupaten, Kejari, Polres, Kodim, dan seluruh unsur organisasi pertanian se-OKU Timur. Sabtu (3/4/21). OKU Timur didaulat sebagai penghasil gabah kering terbesar se-Sumatera Selatan. desasasaran di 4 provinsi prioritas BRG (Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Papua), melalui dukungan dana bantuan Pemerintah Norwegia. Kabupaten Ogan Komering Ilir ditetapkan oleh Badan Restorasi Gambut sebagai salah satu kabupaten target restorasi di Provinsi Sumatera Selatan. Pada tahun 2018, sebanyak 12 Bagimasyarakat Baba penggunaan cili yang banyak di dalam masakan merupakan satu identiti yang membezakan antara masyarakat Baba dan Cina Dewan Bahasa dan Pustaka Masyarakat Melayu dulunya memiliki budaya kerja yang disebut “semangat kerja” yang tinggi, semangat yang mampu mangangkat hakikat dan martabat kaumnya “ untuk duduk sama rendah tegak sama Rumahjenis ini banyak ditemukan di daerah Singkarak, Solok. 2. Gonjong Limo. Rumah gadang Gonjong Limo ini merupakan rumah adat Sumatera Barat. Rumah ini memiliki ciri khas berupa terdapat gonjong pada sisi kiri dan kanan. Rumah jenis ini pun banyak terdapat di kota Payakumbuh, Koto, Luhak Limo Puluah. 3. 11 LATAR BELAKANG MASALAH. Sejak zaman dahulu bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang majemuk. Hal ini tercermin dari semboyan “Bhinneka tunggal Ika” yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap ContohSoal Seni Budaya Kelas 5 SD/MI Semester 1 dan 2 (PG dan Essay) Petunjuk umum : Tulislah nama lengkap kalian sesuai tanggal lahir pada sudut kanan atas. Simak pertanyaan secara seksama. Mulai mengerjakan pada soal yang mudah terlebih dahulu. Tinjau kembali jawaban kalian sebelum mengumpulkannya kepada guru kalian. DiSumatera Barat sendiri, jumlah suku ini mencapai 4.281.439, sementara di seluruh Indonesia mencapai 6.462.713 orang. Suku ini menggunakan bahasa Minangkabau, yang merupakan anak cabang dari bahasa Austronesia. Suku Minang kerap kali menyebut diri mereka sebagai “Urang Awak”, yang artinya adalah “Orang Minang”. PerintisArkeologi BEBERAPA TOKOH PELETAK DASAR-DASAR ARKEOLOGI INDONESIA Perkembangan dunia arkeologi Indonesia tidak dapat lepas kaitannya dengan tokoh-tokoh arkeologi bangsa Belanda yang pernah malang melintang di situs-situs yang mengandung tinggalan budaya masa lampau di Nusantara, terutama di Jawa dan Sumatra. Bisa dimaklumi 7Sehubungan adanya dengan keterkaitan usaha turun temurun keluarga tersebut, lebih lanjut (Ibu Hj. Badariah, 60 tahun) mengungkapkan; “Sejalan dengan waktu dan zaman semakin berkembang dikenal oleh masyarakat di sekitarnya dan merambat jauh sampai ke pelosok daerah-daerah yang ada di Sumatera Selatan khususnya. . 1. Rumah Adat Di Sumatra Selatan, seperti halnya dengan daerah lain di Indonesia, terdapat karya seni arsitektur yaitu Rumah Limas dan masih bisa kita temukan sebagai rumah hunian di daerah Palembang. Rumah Limas Palembang telah diakui sebagai Rumah Adat Tradisional Sumatera Selatan. Secara umum arsitektur Rumah Limas Palembang, pada atapnya berbentuk menyerupai piramida terpenggal limasan. Keunikan rumah Limas lainnya yaitu dari bentuknya yang bertingkat-tingkat kijing. Dindingnya berupa kayu merawan yang berbentuk papan. Rumah Limas Palembang dibangun di atas tiang-tiang atau cagak. Tari Tanggai - Sumatera Selatan 2. Seni Tari 1. Tari Gending Sriwijaya Gending Sriwijaya merupakan lagu daerah dan juga tarian yang cukup populer dari kota Palembang Sumatera Selatan. Lagu Gending Sriwijaya ini dibawakan untuk mengiringi tari Gending Sriwijaya. Baik lagu maupun tarian ini menggambarkan keluhuran budaya, kejayaan, dan keagungan kemaharajaan Sriwijaya yang pernah berjaya mempersatukan wilayah Barat Nusantara Lirik lagu ini juga menggambarkan kerinduan seseorang akan zaman di mana pada saat itu Sriwijaya pernah menjadi pusat studi agama Buddha di dunia. Tari Gending Sriwijaya dari Sumatera Selatan ini dibawakan untuk menyambut tamu-tamu agung. Biasanya tarian ini dibawakan oleh sebanyak 13 orang penari, yang terdiri dari 9 orang penari inti dan 4 orang pendamping dan penyanyi Satu orang penari utama pembawa tepak tepak, kapur, sirih, Dua orang penari pembawa peridon perlengkapan tepak, Enam orang penari pendamping tiga dikanan dan tiga kiri, Satu orang pembawa payung kebesaran dibawa oleh pria, Satu orang penyanyi Gending Sriwijaya, Dua orang pembawa tombak pria. Namun saat ini penyanti gending sriwijaya sudah banyak digantikan dengan media digital dan elektronik seperti VCD maupun tape recorder. 2. Tari Tanggai Tari Tanggai merupakan tarian tradisional dari Sumatera Selatan yang juga dipersembahkan untuk menyambut tamu kehormatan. Berbeda dengan tari Gending Sriwijaya, Tari Tanggai dibawakan oleh lima orang dengan memakai pakaian khas daerah seperti kain songket, dodot, pending, kalung, sanggul malang, kembang urat atau rampai, tajuk cempako, kembang goyang, dan tanggai yang berbentuk kuku terbuat dari lempengan tembaga. Tari ini merupakan perpaduan antara gerak yang gemulai dengan busana khas daerah. Tarian ini menggambarkan masyarakat Palembang yang ramah dan menghormati, menghargai serta menyayangi tamu yang berkunjung ke daerahnya. 3. Tari Mejeng Basuko Tarian mejeng basuko adalah tarian khas muda mudi Sumatera Selatan Sumsel. Tarian ini menggambarkan muda mudi yang berkumpul dan bersenda gurau untuk menarik hati lawan jenisnya. Tak jarang ada yang sampai jatuh hati dan mendapatkan jodoh dari pertemuan tersebut. Tarian Rodat Cempako adalah tarian khas masyarakat Sumsel yang dipengaruhi oleh gerakan dari Timur Tengah. Tarian Rodat Cempako ini merupakan tarian masyarakat Sumsel yang bernafaskan Islam. 5. Tari Tenun Songket Tarian Tenun Songket dari Sumatera Selatan ini menggambarkan masyarkat Sumsel khususnya kaum wanita yang memanfaatkan waktu luangnya untuk menenun kain songket dan kerajinan tangan. 6. Tari Madik / Nindai Tari Madik / Nindai adalah tarian khas Sumatera Selatan yang menggambarkan proses pemilihan calon menantu. Di Sumatera Selatan terdapat kebiasaan dimana orang tua pria akan berkunjung ke rumah calon menantunya untuk melihat dan menilai Madik dan Nindai kepribadian sehari-hari calon menantu tersebut. 3. Pakaian Adat Pakaian Adat Sumatra Selatan bisa dikatakan sebagai simbol peradaban budaya masyarakat Sumatra Selatan. Karena di dalamnya terdapat unsur filosofi hidup dan keselarasan. Hal ini bisa dilihat dari pilihan warna dan corak yang menghiasi pakaian adat tersebut. Ditambah dengan kelengkapannya, makin menambah kesakralan yang nampak pada tampilan pakaian adat yang berfungsi sebagai identitas budaya masyarakat Sumatra Selatan. Aessan Gede dan Aesan Paksangko Pakaian adat Suamtra Selatan sangat terkenal dengan sebutan Aesan gede yang melambangkan kebesaran, dan pakaian Aesan paksangko yang melambangkan keanggunan masyarakat Sumatera Selatan. Pakaian adat ini biasanya hanya digunakan saat upacara adat perkawinan. Dengan pemahaman bahwa upacara perkawinan ini merupakan upacara besar. Maka dengan menggunakan Aesan Gede atau Aesan Paksangko sebagai kostum pengantin memiliki makna sesuatu yang sangat anggun, karena kedua pengantin bagaikan raja dan antara corak Aesan Gede dan Aesan Paksongko, jika dirinci sebagai berikut; gaya Aesan Gede berwarna merah jambu dipadu dengan warna keemasan. Kedua warna tersebut diyakini sebagai cerminan keagungan para bangsawan Sriwijaya. Apalagi dengan gemerlap perhiasan pelengkap serta mahkota Aesan Gede, bungo cempako, kembang goyang, dan kelapo standan. Lalu dipadukan dengan baju dodot serta kain songket lepus bermotif napan perak. Pada Aesan Paksangkong. Bagi laki-laki menggunakan songket lepus bersulam emas, jubah motif tabor bunga emas, selempang songket, seluar, serta songkok emeas menghias kepala. Dan bagi perempuan menggunakan teratai penutup dada, baju kurung warna merah ningrat bertabur bunga bintang keemasan, kain songket lepus bersulam emas, serta hiasan kepala berupa mahkota Aesan Paksangkong. Tak ketinggalan pula pernak-pernik penghias baju seperti perhiasan bercitrakan keemasan, kelapo standan, kembang goyang, serta kembang kenango. 4. Senjata Tradisonal Senjata Tradisional Sumatera Selatan yang beribuka di Palembang memiliki banyak kesamaan dengan senjata tradisional provinsi lainnya di Pulau Sumatera dan Kepulauan Riau. Namun ada satu senjata yang memang khas Palembang. Senjata tersebut adalah Tombak Trisula. Seperti halnya rencong dari aceh, kujang dari sunda, atau mandau dari Kalimantan, tombak trisula memang sudah dikenal berasal dari Palembang. Namun belum diketahui secara pasti sejak kapan trisula ini menjadi senjata tradisional di Palembang. Diduga perkembangan trisula menjadi senjata tradisional di Palembang ada kaitannya dengan perkembangan kebudayaan Hindu yang ada pada masa kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Hal ini dapat dilihat dari bentuk tombak trisula yang mirip dengan trisula yang ada di kuil kuil Hindu yaitu senjata yang dipegang oleh Dewa Siwa. Walaupun senjata tombak trisula ini juga dipergunakan oleh banyak negara, akan tetapi yang khas dari trisula palembang adalah kedua sisi tombak tersebut dapat dipergunakan sebagai senjata. Satu sisi tombak berbentuk trisula sedangkan sisi lainnya merupakan mata tombak biasa. Selain Tombak Trisula sebagai senjata tradisional Palembang, masyarakat palembang juga mengenal keris sebagai senjata tradisional. Walaupun pada zaman sekarang replikasi keris dipergunakan sebagai pelengkap pakaian tradisional dari Sumatera Selatan. Demikian Sobat, ulasan mengenai senjata tradisional dari Sumatera Selatan. Semoga bermanfaat. 5. Lagu Daerah 1. Pempek Lenzer 2. Kabile Bile 3. Dirut 4. Dek Sangke 5. Kapal Selam 6. Cup Mak Ilang 7. Petang – Petang Bari Diwaktu Malam Sriwjaya 6. Bahasa Bahasa Palembang berasal dari bahasa Melayu Tua yang berbaur dengan bahasa Jawa dan diucapkan menurut logat/dialek wong Palembang. Seterusnya bahasa yang sudah menjadi milik wong Palembang ini diperkaya pula dengan bahasa-bahasa Arab, Urdhu, Persia, Cina, Portugis, Iggris dan Belanda. Sedangkan Aksara bahasa Melayu Palembang, menggunakan aksara Arab Arab-Melayu atau tulusan Arab berbahasa Melayu Arab Gundul/Pegon. Bahasa Palembang terdiri dari dua tingkatan, pertama merupakan bahasa sehari-hari yang digunakan hampir oleh setiap orang di kota ini atau disebut juga bahasa pasaran. Kedua, bahasa halus Bebaso yang digunakan oleh kalangan terbatas, Bahasa resmi Kesultanan. Biasanya dituturkan oleh dan untuk orang-orang yang dihormati atau yang usianya lebih tua. Seperti dipakai oleh anak kepada orang tua, menantu kepada mertua, murid kepada guru, atau antar penutur yang seumur dengan maksud untuk saling menghormati, karena Bebaso artinya berbahasa sopan dan halus. Suku Kubu - Suku Asi Sumatera Selatan - Jambi 7. Suku Suku Kubu merupakan suku asli pedalaman yang menempati wilayah Sumatera Selatan dan Jambi selain tu terdapat 12 Suku Besar yang ada di Sunmatera Selatan, diantaranya 1. Suku Komering Komering merupakan salah satu suku atau wilayah budaya di Sumatra Selatan, yang berada di sepanjang aliran Sungai Komering. Seperti halnya suku-suku di Sumatra Selatan, karakter suku ini adalah penjelajah sehingga penyebaran suku ini cukup luas hingga ke Lampung. Suku Komering terbagi atas dua kelompok besar Komering Ilir yang tinggal di sekitar Kayu Agung dan Komering Ulu yang tinggal di sekitar kota Baturaja. Suku Komering terbagi beberapa marga, di antaranya marga Paku Sengkunyit, marga Sosoh Buay Rayap, marga Buay Pemuka Peliyung, marga Buay Madang, dan marga Semendawai. Wilayah budaya Komering merupakan wilayah yang paling luas jika dibandingkan dengan wilayah budaya suku-suku lainnya di Sumatra Selatan. Selain itu, bila dilihat dari karakter masyarakatnya, suku Komering dikenal memiliki temperamen yang tinggi dan keras. Berdasarkan cerita rakyat di masyarakat Komering, suku Komering dan suku Batak, Sumatra Utara, dikisahkan masih bersaudara. Kakak beradik yang datang dari negeri seberang. Setelah sampai di Sumatra, mereka berpisah. Sang kakak pergi ke selatan menjadi puyang suku Komering, dan sang adik ke utara menjadi puyang suku Batak. 2. Suku Palembang Kelompok suku Palembang memenuhi 40 - 50% daerah kota palembang. Suku Palembang dibagi dalam dua kelompok Wong Jeroo merupakan keturunan bangsawan/hartawan dan sedikit lebih rendah dari orang-orang istana dari kerajaan tempo dulu yang berpusat di Palembang, dan Wong Jabo adalah rakyat biasa. Seorang yang ahli tentang asal usul orang Palembang yang juga keturunan raja, mengakui bahwa suku Palembang merupakan hasil dari peleburan bangsa Arab, Cina, suku Jawa dan kelompok-kelompok suku lainnya di Indonesia. suku Palembang sendiri memiliki dua ragam bahasa, yaitu Baso Palembang Alus dan Baso Palembang Sari-Sari. Suku Palembang masih tinggal/menetap di dalam rumah yang didirikan di atas air. Model arsitektur rumah orang Palembang yang paling khas adalah rumah Limas yang kebanyakan didirikan di atas panggung di atas air untuk melindungi dari banjir yang terus terjadi dari dahulu sampai sekarang. Di kawasan sungai Musi sering terlihat orang Palembang menawarkan dagangannya di atas perahu. 3. Suku Gumai Suku Gumai adalah salah satu suku yang mendiami daerah di Kabupaten Lahat. Sebelum adanya Kota Lahat, Gumai merupakan satu kesatuan dari teritorial GUMAI, yaitu Marga Gumai Lembak, Marga Gumai Ulu dan Marga Gumai Talang. Setelah adanya kota Lahat, maka Gumai menjadi terpisah dimana Gumai Lembak dan Gumai Ulu menjadi bagian dari Kecamatan Pulau Pinang sedangkan Gumai Talang menjadi bagian dari Kecamatan Kota Lahat. 4. Suku Semendo Suku Semendo berada di Kecamatan Semendo, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan. Menurut sejarahnya, suku Semendo berasal dari keturunan suku Banten yang pada beberapa abad silam pergi merantau dari Jawa ke pulau Sumatera, dan kemudian menetap dan beranak cucu di daerah Semendo. Hampir 100% penduduk Semendo hidup dari hasil pertanian, yang masih diolah dengan cara tradisional. Lahan pertanian di daerah ini cukup subur, karena berada kurang lebih 900 meter di atas permukaan laut. Ada dua komoditi utama dari daerah ini kopi jenis robusta dengan jumlah produksi mencapai 300 ton per tahunnya, dan padi, dimana daerah ini termasuk salah satu lumbung padi untuk daerah Sumatera Selatan. Adat istiadat serta kebudayaan daerah ini sangat dipengaruhi oleh nafas keIslaman yang sangat kuat. Mulai dari musik rebana, lagu-lagu daerah dan tari-tarian sangat dipengaruhi oleh budaya melayu Islam. Bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari adalah bahasa Semendo. Setiap kata pada setiap bahasa ini umumnya berakhiran "e." 5. Suku Lintang Kawasan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera Selatan merupakan tempat tinggal suku Lintang, diapit oleh suku Pasemah dan Rejang. Suku Lintang merupakan salah satu suku Melayu yang tinggal di sepanjang tepi sungai Musi di Propinsi Sumatera Selatan. Suku Melayu Lintang hidup dari bercocok tanam yang menghasilkan kopi, beras, kemiri, karet dan sayur-sayuran. Mereka juga beternak kambing, kerbau, ayam, itik, bebek, dll. Mereka tidak mencari nafkah di sektor perikanan walaupun tinggal di tepi sungai. Orang Lintang adalah penganut Islam yang cukup kuat. Hal ini terlihat dengan banyaknya mesjid-mesjid dan pesantren untuk melatih kaum mudanya. 6. Suku Kayu Agung Suku Kayu Agung berdomisili di Sumatera Selatan, tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan ibukotanya Kayu Agung. Wilayah ini dialiri sungai Komering. Bahasanya terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Kayu Agung dan dialek Ogan. Mata pencaharian suku ini bertani, berdagang, dan membuat gerabah dari tanah liat. Bentuk pertanian kebanyakan bersawah tahunan karena daerahnya terdiri dari rawa-rawa. Jadi sawah hanya dikerjakan saat musim hujan. Suku Kayu Agung mayoritas beragama Islam, tetapi mereka juga mempertahankan kepercayaan lama, yaitu kepercayaan mengenai dunia roh. Suku Kayu Agung percaya bahwa roh-roh nenek moyang dapat mengganggu manusia. Oleh karena itu, sebelum mayat dikubur harus dimandikan dengan bunga-bunga supaya arwah roh yang mati lupa jalan ke rumahnya. Mereka juga percaya akan dukun yang membantu dalam upacara pertanian, baik saat menanam maupun saat panen. Selain itu ada tempat-tempat keramat yang mereka anggap sebagai tempat bersemayamnya para arwah. 7. Suku Lematang Suku Lematang tinggal di daerah Lematang yang terletak di antara Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Lahat. Daerah ini berbatasan dengan daerah Kikim dan Enim. Suku ini menempati wilayah di sepanjang sungai Lematang, di sekitar kota Muaraenim dan kota Prabumulih. Asal usul orang Lematang dari kerajaan Majapahit, keturunan orang Banten dan Wali Sembilan. Orang Lematang sangat terbuka dan memiliki sifat ramah tamah dalam menyambut setiap pendatang yang ingin mengetahui seluk beluk dan keadaan daerah dan budayanya. Mereka juga memiliki rasa kebersamaan yang tinggi. Hal itu terbukti dari sikap gotong royong dan tolong menolong bukan hanya kepada masyarakat Lematang sendiri tetapi juga kepada masyarakat luar. 8. Suku Ogan Suku Ogan terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ilir. Mereka mendiami tempat sepanjang aliran Sungai Ogan dari Baturaja sampai ke Selapan. Orang ogan biasa juga disebut orang Pagagan. Suku Ogan terbagi menjadi 3 tiga sub-suku, yakni Suku Pegagan Ulu, Suku Penesak, dan Suku Pegagan Ilir. Kelompok masyarakat ini adalah penduduk asli dan bertani, tetapi banyak juga yang menjadi pegawai negeri. Makanan pokok suku ini ialah hasil pertanian. 9. Suku Pasemah Suku Pasemah adalah suku yang mendiami wilayah kabupaten Empat Lawang, kabupaten Lahat, Ogan Komering Ulu, dan di sekitar kawasan gunung berapi yang masih aktif, gunung Dempo. Suku bangsa ini juga banyak yang merantau ke daerah-daerah di provinsi Bengkulu. Menurut sejarah, suku ini berasal dari keturunan Raja Darmawijaya Majapahit yang menyeberang ke Palembang pulau Perca. Suku ini banyak yang tersebar di pegunungan Bukit Barisan, khususnya di lereng-lerengnya. Menurut mitologi nama Pasemah berasal dari kata Basemah yang berarti berbahasa Melayu. Hasil utama masyarakat suku ini ialah kopi, sayur-sayuran dan cengkeh dengan makanan pokoknya ialah beras. 10. Suku Sekayu Suku Sekayu terletak di Propinsi Sumatera Selatan. Dalam wilayah Kabupaten Musi Banyuasin. Mayoritas penduduknya petani. Hasil pertaniannya adalah padi, singkong, ubi, jagung, kacang tanah dan kedelai. Hasil perkebunan yang menonjol adalah karet, cengkeh dan kopi. Industri rakyat yang terkenal berupa bata dan genteng. Suku Sekayu merupakan "manusia sungai" dan senang mendirikan rumah-rumah yang langsung berhubungan dengan sungai Musi. Tidak seperti umumnya suku-suku di Indonesia, suku Bugis, Minangkabau atau Jawa, suku Sekayu jarang berpindah-pindah ke tempat yang jauh. Keinginan untuk lebih maju dan mencari keberuntungan mereka lakukan hanya sampai di ibukota propinsi. Suku Sekayu yang tinggal di Palembang menduduki sektor-sektor pekerjaan yang penting, mulai dari guru besar/dosen universitas, ahli riset, hartawan dan pengembang lahan, pekerja galangan dan penarik becak. 11. Suku Rawas Suku ini terletak di wilayah propinsi Sumatera Selatan, tepatnya di sekitar dua aliran sungai Rawas dan sungai Musi bagian utara. Suku ini menempati wilayah di Kecamatan Rawas Ulu, Rawas Ilir, dan Muararupit, di Kabupaten Musi Rawas. Bahasa Rawas masih tergolong ke dalam rumpun melayu. Di wilayah ini banyak terdapat kebun karet rakyat. 12. Suku Banyuasin Suku ini terutama tinggal di kab. Musi Banyuasin yaitu di kec. Babat Toman, Banyu Lincir, Sungai Lilin, dan Banyuasin Dua dan Tiga. Umumnya mereka tinggal di dataran rendah yang diselingi rawa-rawa dan berada di daerah aliran sungai. Sungai terbesar adalah sungai Musi yang memiliki banyak anak sungai. Mata pencaharian pokoknya adalah bertani di sawah dan ladang. Mereka masih percaya terhadap berbagai takhyul, tempat keramat dan benda-benda kekuatan gaib. Mereka juga menjalani beberapa upacara dan pantangan. Sumatra Selatan atau dikenal dengan sebutan "Bumi Sriwijaya" merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan tersebut merupakan salah satu kerajaan terbesar yang ada di Indonesia. Provinsi ini berbatasan langsung dengan beberapa provinsi lainnya seperti Lampung, Bangka Belitung, Jambi, dan dikenal dengan sejarahnya yang tinggi, Sumatra Selatan juga mempunyai berbagai budaya dan tradisi yang sangat beragam dan unik. Tak heran jika provinsi ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit yang ada di Indonesia. Berikut lima tradisi daerah Sumatra Selatan yang wajib kamu Tradisi Lepas perayaan Imlek, masyarakat Sumatra Selatan mempunyai sebuah tradisi yang cukup menarik. Para pengunjung vihara akan melakukan tradisi melepas burung pipit untuk terbang ke alam bebas. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, melepaskan burung dapat mengurangi karma buruk dan memperlacar juga percaya bahwa semakin banyak burung yang dilepas, maka semakin enteng pula dosa yang ditanggung. Tradisi ini juga memberikan dampak ekonomi yang positif bagi warga yang menjual bunga di daerah Bekarang Bekarang Iwak merupaka sebuah tradisi masyarakat Palembang untuk menangkap ikan secara bersama-sama di Sungai Lacak. Pada saat tradisi tersebut, masyarakat dapat mengambil ikan di sana secara gratis. Tradisi Bekarang Iwak sendiri dilaksanakan satu tahun sekali oleh masyarakat membawa ikan ke rumah masing-masing, hasil ikan tangkapan tersebut akan dibedakan menjadi ikan yang besar dan ikan yang kecil. Untuk hasil ikan besar akan diberikan ke tetua adat untuk dijual, sedangkan hasil ikan kecil dapat dibawa pulang oleh warga. Hasil penjualan ikan besar tadi akan digunakan untuk kepentingan umum seperti membangun masjid, jembatan, dan lain sebagainya. Baca Juga 5 Tradisi Adat Daerah Lampung yang Paling Populer, Sudah Tahu? 3. Tradisi Tepung Tawar Tepung Tawar merupakan sebuah tradisi untuk menyuapkan ketan kunyit dan ayam ke seseorang. Tradisi ini mempunyai 3 jenis, yaitu untuk tolak bala, pernikahan, dan perdamaian. Untuk Tepung Tawar Tolak Bala, biasanya dilakuakan oleh keluarga yang sering mengalami kecelakaan atau tertimpa dari tradisi ini ialah meminta perlindungan kepada Allah SWT. Tradisi ini sudah berlangsung selama ratusan tahun dan sudah ada sejak zaman Kesultanan Palembang Darussalam. Bedanya dengan tradisi Tepung Tawar di Sumatra Selatan yang ada di daerah melayu lainnya ialah mereka tidak menggunakan tepung sebagai bahan Sedekah Rame merupakan sebuah tradisi yang dimiliki oleh masyarakat Suku Lahat yang ada di Sumatra Selatan. Tradisi ini biasanya dilakukan oleh para petani dengan maksud agar hasil panen berlimpah dan diberi kelancaran dalam setiap tahapan panen yang ada. Acara akan diawali dengan sambutan dan pembakaran kemenyan. Lalu, akan ada penyampaian amanat dan diikuti oleh doa bersama. Acara diakhiri dengan kegiatan makan bersama yang sebelumnya sudah disiapkan oleh sebenarnya merupakan sebuah adab makan yang sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Palembang. Tradisi ini biasanya dilakukan di beberapa acara seperti syukuran, pernikahan, hingga perayaan hari besar suatu agama. Dalam tradisi ini, orang-orang akan makan bersama dengan cara duduk bersila dan membentuk suatu lingkaran. Di tengah-tengah lingkaran akan disuguhkan berbagai lauk pauk yang telah disiapkan. Ngobeng mempunyai sebuah filosofi, yaitu untuk meningkatkan rasa kekeluargaan dan semangat gotong itu dia lima tradisi daerah yang ada di Sumatra Selatan. Selain dikenal dengan sejarahnya, ternyata daerah tersebut juga mempunyai berbagai tradisi yang menarik ya. Semoga tradisi-tradisi tersebut masih dapat dilestarikan ke depannya. Baca Juga 5 Balapan Hewan Khas Nusantara yang Jadi Tradisi dan Agenda Budaya IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis. Kebudayaan Sumatera Selatan- Sumatera Selatan merupakan provinsi di Indonesia yang terletak di bagian selatan Pulau Sumatra. Ibu kota provinsi ini adalah kota Palembang. Yang menarik dan akan kita bahas disini yaitu kebudayaan yang ada akan kita bahas mengenai kebudayaan di Provinsi Sumatera Selatan ini yaitu melingkupi bagian sepertiSuku bangsaBahasa daerahRumah adatPakaian adatKesenian TradisionalDan lain saja mari kita bahas di bawah Sumatera Suku Bangsa Sumatera Bahasa Daerah Sumatera Agama di Sumatera Selatan2 Kebudayaan Sumatera Rumah Adat Sumatera Rumah Adat Rumah Adat Cara Rumah Adat Rumah Adat Rumah Rumah Pakaian Adat Sumatera Pakaian Adat Aesan Pakaian Adat Aesan Gede3 Kesenian Tradisional Sumatera Tarian Adat Daerah Sumatera Alat Musik Tradisional Sumatera Senjata Tradisional Sumatera Upacara Adat Sumatera Makanan Khas Sumatera Selatan4 Sumatera Selatan ini dihuni oleh beberapa etnis suku bangsa dengan berbagai macam bahasa daerah dan agama kepercayaan yang beragam, berikut daftar Bangsa Sumatera SelatanProvinsi ini dulunya dikenal dengan kerajaan Sriwijaya nya yang cukup besar. Berbagai adat istiadat di bawah kerajaan Sriwijaya ini memiliki berbagai macam ras suku bangsa. Berikut ini daftar suku bangsa yang ada di Sumatera SelatanSuku KomeringSuku PalembangSuku GumaiSuku SemendoSuku LintangSuku Kayu agungSuku LematangSuku OganSuku PasemahSuku SekayuSuku RawasSuku BanyuasinBahasa Daerah Sumatera SelatanSetiap suku bangsa biasanya memiliki jenis bahasa sendiri, di Provinsi Sumatra Selatan sendiri terdapat beberapa suku bangsa. Berikut ini beberapa jenis bahasa di Provinsi Sumatra Palembang atau Bahasa Melayu Bahasa ini dipakai oleh penduduk Kota Komering/ Komerin/ Njo Bahasa ini dipakai oleh penduduk sekitar Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Selatan, dan Ogan Komering Ulu Kayu Agung Bahasa ini dipakai oleh penduduk di sekitar daerah Kayu Musi Bahasa ini dipakai oleh penduduk Kabupaten Musi Banyuasin dan penduduk sebelah barat Sungai Musi serta bagian Pasemah Bahasa ini dipakai oleh penduduk di sekitar Dataran Tinggi Bukit Penegak Bahasa ini dipakai oleh penduduk sekitar Semendo Bahasa ini dipakai oleh penduduk di daerah pedalaman, yaitu sebelah barat Baturaja dan Pajarbulan bagian Sindang Kelingi Bahasa ini dipakai oleh penduduk di sekitar Muara Enim Bahasa ini dipakai oleh penduduk di Muara Enim bagian selatan dan Lahat bagian timur serta Lematang Bahasa ini dipakai oleh penduduk di wilayah Muara Enim dan Sarolangun bagian Lintang Bahasa ini dipakai oleh penduduk di wilayah antara Lahat dan Ogan Bahasa ini dipakai oleh masyarakat daerah Baturaja, Pagerdewa, dan sebelah barat Kayu Ranau Bahasa ini dipakai oleh penduduk Muaradua sebelah Rawas Bahasa ini dipakai oleh Kabupaten Musi Rawas, sekitar Ambacang, dan sepanjang Sungai Sungkai Bahasa ini dipakai oleh penduduk Kruih bagian barat daya dan Abung sebelah Pubian Bahasa ini dipakai oleh sebagian penduduk Sumatra Pesisir Bahasa ini dipakai oleh sebagian penduduk Sumatra Kubu Bahasa ini dipakai oleh sebagian penduduk Sumatra antara bahasa daerah tersebut, ada bahasa yang jumlah penggunanya cukup banyak dibandingkan dengan yang lainnya, antara lainBahasa PalembangBahasa PasemahBahasa KomeringBahasa OganBahasa PesisirBahasa di Sumatera SelatanAgama Islam merupakan agama mayoritas di semua kabupaten dan kota di Sumatera Selatan, sedangkan Agama Kristen di Kota Palembang, dan Agama Budha dengan populasi besar berada di Kota Palembang dan Kabupaten Banyu 94,18%Kristen Protestan 1,99%Buddha 1,81%Katolik 1,13%Hindu 0,89%Kebudayaan Sumatera yang ada di provinsi Sumatera Selatan ini tidak jauh beda dengan kebudayaan yang ada di pulau Sumatera ini, yakni masih tercampur oleh kebudayaan melayu, Islam, dan kerajaan kebudayaan yang terdapat di Sumatera Selatan ini meliputi rumah adat, pakaian adat, tarian, senjata tradisional khas dari daerah Sumatera Selatan ini terkenal diseluruh penjuru Indonesia, bahkan digemari banyak orang. Seperti rumah Limas, rumah ini banyak diadaptasi di berbagai daerah karena cara membuatnya yang tidak songket yang merupakan khas Sumatera Selatan juga menjadi kegemaran banyak orang. Dalam kuliner ada pempek yang menjadi makanan kegemaran masyarakat Indonesia di berbagai daerah juga sangat menyukai jenis makanan ini. Langsung saja kita bahas di bawah Adat Sumatera adat yang terkenal dari Sumatera selatan yaitu rumah limas, rumah ini merupakan salah satu dari puluhan rumah adat yag ada di Indonesia. DI indonesia sendiri hampir seluruh wilayah mempunyai rumah adat dengan ciri khasnya masing – khas rumah adat Sumatera Selatan yang berbeda dengan rumah adat di provinsi lainnya, yaitu atapnya yang berbentuk limas, dan rumahnya yang berbentuk adat yaitu bangunan tradisional untuk tempat tinggal atau peninggalan dari nenek moyang, dan peninggalan tersebut tersebar di seluruh wilayah Adat LimasKata limas diambil dari kata lima dan emas. Rumah limas adalah rumah dengan bentuk panggung dan atapnya yang berbentuk limas. Yang menarik dari rumah ini yaitu pada bagian lantai rumah limas dibuat atau undakan dibagian lantai biasa disebut dengan kekijing. Pada rumah limas biasanya memiliki 2 hingga 4 undakan limas mempunyai tiang penyangga dengan tinggi sekitar 1, 5 meter – 2 meter dari tanah. Rumah limas terbagi menjadi 3 ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda, yaituRuang depan Ruangan ini biasanya digunakan untuk beristirahat dan bersantai anggota tengah Sedangkan untuk ruangan bagian tengah terdapat beberapa kekijing. Setiap kekijing memiliki dua buah jendela yang terletak di sebelah kanan dan sebelah kiri. Pada bagian kekijing yang terakhir ada lemari dinding yang dipakai untuk belakang Kemudian untuk ruangan bagian belakang adalah ruangan dapur yang digunakan untuk Adat Cara ini diberi nama rumah cara gudang karena bentuknya yang memanjang menyerupai gudang. Rumah ini memipunyai tiang penyangga dengan tinggi sekitar 2 meter. Bentuk atap dari rumah ini berbentuk limas dan pada rumah ini tidak terdapat pembuatannya masyarakat sekitar biasanya menggunakan bahan rumah cara gudang ini dari susunan kayu yang bagus, sepertiKayu ini juga memiliki tiga ruangan sama seperti rumah limas dengan fungsi ruangan yang juga hampir sama seperti buah Adat namanya rumah ini terapung di atas rakit, susunan rakit ini terdiri dari balok-balok kayu dan potongan bambu, di setiap sudut dipasang tiang-tiang yang kemudian diikatkan ke tonggak yang menancap di tebing mengikat tiang dengan tonggak biasanya menggunakan tali ini memiliki atap dua bidang saja, atap pada rumah rakit disebut atap kajang. Rumah rakit ini terbagi menjadi dua ruangan dengan dua buah pintu. Pintu pertama menghadap ke tengah sungai sedangkan pintu lainnya menghadap ke tepi dua buah jendela yang biasanya terletak di sebelah kanan dan kiri rumah. Bagian depan rumah dilengkapi dengan jembatan untuk menghubungkan antara rumah dan Adat rumah tatanan karena pada rumah ini banyak terdapat ukiran yang dibuat dengan cara dipahat atau ditatah. Rumah ini dibangun di atas tiang setinggi 1,5 meter. Rumah ini terbuat dari kayu yang tahan lama yakni kayu tembesu dan kayu tatahan ini terbagi menjadi dua ruangan dengan fungsi sebagai berikutRuang depan dan ruang tengah Ruang depan biasanya dipergunakan untuk memasak. Di ruang depan ini terdapat tanah untuk meletakkan tengah berfungsi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Pada malam hari ruangan ini dipergunakan untuk tidur. Saat pemilik rumah sedang memiliki hajat, ruangan ini akan diperuntukkan untuk tamu yang dengan rumah tatanan, rumah ini tidak memiliki hiasan berupa ukiran, pada bagian dinding hanya cukup dilicinkan saja menggunakan ketam atau sugu. Bentuk rumah ini panggung dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Tiang pada rumah ini tidak ditancapkan di dalam tanah melainkan hanya diletakkan di atas pada rumah ini disebut dengan tiang duduk, rumah kalipan ini memiliki dua ruangan. Yaitu ruang depan & ruang tengah dengan fungsi yang sama dengan rumah KingkingBentuk rumah kingking ini bujur sangkar dengan atap terbuat dari bambu yang dibelah menjadi dua dan biasa dikenal dengan sebutan gelumpai. Ruagan rumah kingking sama dengan rumah tatahan. Rumah ini termasuk dalam rumah panggung dan menggunakan tiang kami juga sudah membahas rumah adat yang berasal dari provinsi Jawa Timur dalam artikel Kebudayaan Jawa Timur. Jangan lupa untuk membacanya juga Adat Sumatera Sumatera Selatan saat ini paling tidak memiliki dua pakaian adat yang cukup unik dan menarik untuk kita pelajari, Pakaian adat ini biasa dikenakan saat acara-acara tertentu, sepertiUpacara adat perkawinanFestivalDan acara-acara budaya pakaian adat ini tidak dikenakan pada sembarang acara apalagi untuk busana harian. Pakaian adat Sumatera Selatan itu ada dua yaituAesan PaksangkoAesan dinamakan Aesan? Aesan sendiri diambil dari bahasa Palembang yang artinya Baju, Busana, atau Pakaian. Berikut sedikit penjelasan pakaian adat tersebutPakaian Adat Aesan PaksangkoBaju adat daerah Sumatera Selatan yang pertama dikenal dengan nama Aesan Paksangko. Baju adat ini mempunyai makna filosofis yang melambangkan keagungan masyarakat daerah Adat Palembang ini pada umumnya lebih sering terlihat pada suatu acara resepsi pernikahan yang digunakan oleh kedua pasang mempelai, dengan kombinasi warna merah dan emas. Dengan menggunakan pakaian adat ini penampilan kedua pengantin akan semakin Adat Aesan GedePakaian adat provinsi Sumatera Selatan yang kedua yaitu disebut dengan nama Aesan Gede. Bedanya pakaian ini dengan Aesan Paksangko yaitu baju adat Aesan Gede lebih mengkombinasikan warna merah jambu & juga Kebudayaan Nusa Tenggara TimurKesenian Tradisional Sumatera SelatanKesenian tradisional yang akan kita bahas di provinsi Sumatera Selatan ini meliputi tarian tradisional, alat musik tradisional, senjata tradisional dan lain sebagainya. Berikut kita bahas satu persatu di bawah Adat Daerah Sumatera daftar tarian yang ada di daerah Sumatera Selatan iniTari Adat SilampariTari Adat PengutonTari Adat Bujang Gadis BeladasTari Adat Petake GerinjingTari Adat Ngantat DendanTari Sendratari Konga Raja BuayeTari Adat Seluang MudikTari Adat Madik NindaiTari Adat Putri BekhusekTari Adat TanggaiTari Adat Pagar PengantinTari Adat Gending SriwijayaTari Adat Tenun SongketTari Adat KebaghTari Adat KubuTari Adat Mejeng BesukoTari Adat GegeritTari Adat Kipas SerumpunTari Adat Rodat CempakoTari Sebimbing juga Kebudayaan Nusa Tenggara BaratAlat Musik Tradisional Sumatera daftar Alat Musik yang ada di daerah Sumatera Selatan iniKenong Basemah PalembangGambusTerbanganBurdah atau Gendang OkuTenunBiolaTerompetGongGenggo juga Kebudayaan Papua BaratSenjata Tradisional Sumatera ini daftar senjata tradisional yang ada di daerah Sumatera Selatan iniSenjata Tradisional Tombak TrisulaSenjata Tradisional KerisSenjata Tradisional SkinSenjata Tradisional Adat Sumatera ini daftar upacara adat yang ada di daerah Sumatera Selatan iniTradisi BebehasTradisi NgobengTradisi Sedekah RameTradisi PemakamanTradisi MadikTradisi MenyenggukTradisi NgebetTradisi BerasanTradisi Mutuske KatoTradisi Nganterke BelanjoTradisi Ngocek BawangTradisi MunggahTradisi Kumpulan Rudat dan KuntauTradisi NyanjoiTradisi NyemputiNgater PengantenBekarang IwakTradisi SunatanBaca juga Kebudayaan Sumatera UtaraMakanan Khas Sumatera ini daftar makanan khas daerah Sumatera SelatanPempekTekwanLaksanCelimpunganBurgoLaksoMartabak PalembangMie CelorPindang IkanPindang TulangSate Sapi Cucuk ManisBakmi BabiEs Kacang MerahKemplang Dan Kopi PalembangGodo-GodoGulo PuanRoti KoingSambal TempoyakPenutupNah teman-teman sudah sampai kita di akhir pembahasan tentang kebudayaan yang ada di provinsi Sumatera Selatan. Semoga bermanfaat. Kebudayaan Sumatera Utara – Indonesia terkenal sebagai negara yang kaya akan rempah-rempah dan kekayaan alam lainnya. Indonesia juga terdiri dari beberapa provinsi dengan berbagai kebudayaan yang berbeda dari setiap daerah. Termasuk di Provinsi Sumut yang merupakan salah satu bagian wilayah Indonesia yang memiliki kawasan cukup luas dengan berbagai kebudayaan khasnya. Sebut saja wilayah Sumut. Ada lebih dari 10 kebudayaan sumatera utara yang bisa Anda temui saat berkunjung ke sana. Namun apabila saat ini Anda belum sempat untuk singgah ke Pulau Sumatera khususnya bagian utara, untuk mengenal dan menikmati berbagai kebudayaan khasnya, jangan khawatir karena di bawah ini akan dihadirkan secara detail tradisi Sumatera Utara paling terkenal dan wajib Anda ketahui. Semakin penasaran saja kan apa saja sih kebudayaan Sumatera Utara yang membuat wilayah ini menjadi terkenal dengan ciri khas budayanya? Berikut ulasan dengan lengkap dan khusus dihadirkan bagi Anda untuk mengenal adat istiadat sumatera utara agar semakin dekat dengan kebudayaan Nusantara yang wajib untuk dilestarikan. Macam Macam Budaya Sumatera Utara1. Rumah AdatNama Rumah Adat Sumatera Utara2. Pakaian AdatMacam macam pakaian adat Sumatera Utara3. Tarian AdatTari Tradisional Sumatera Utara4. Senjata Tradisional5. Suku BangsaSuku Asli Sumatra Utara6. Lagu DaerahLagu Daerah Sumatera Utara7. Bahasa Daerah Macam Macam Budaya Sumatera Utara Rumah Adat. Pakaian Adat. Tarian Adat. Senjata Tradisional. Suku. Lagu Daerah. Bahasa Daerah. 1. Rumah Adat Rumah Adat Bolon img Rumah adat provinsi Sumatera Utara menjadi ciri khas kecantikan budaya bangsa kita, terdiri dari berbagai budaya bangsa yang semakin mewarnai keindahan Nusantara, termasuk kebudayaan di Sumatera Utara. Dalam pembahasan 7 dari 10 kebudayaan Sumatra Utara ini, kita mulai dengan mengenal rumah adat yang ada di Sumut. Sudahkah Anda mengenal rumah adat di Sumatera Utara ini?. Ya. Sumut memiliki rumah adat yang khas yang dikenal dengan nama Parsakistan dan rumah adat Jabu Bolon. Untuk rumah adat Parsakistan sendiri merupakan rumah adat Sumatera Utara yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan barang-barang pusaka. Rumah adat ini terletak di daerah Batak Toba. Selain sebagai penyimpanan barang-barang pusaka, rumah Jabu Parsakistan juga merupakan tempat untuk pertemuan dalam membahas hal-hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan adat. Sedangkan rumah adat Jabu Bolon merupakan rumah yan dijadikan lokasi pertemuan suatu keluarga besar dimana bentuk dari rumah adat ini berbentuk seperti panggung dengan ruang bagian atas sebagai tempat tinggal bersama dan tempat tidur yang didesain lebih tinggi dari posisi dapur. Nama Rumah Adat Sumatera Utara Bolon. Karo. Pakpak. Mandailing. Melayu. Nias. Angkola. Simalungun. 2. Pakaian Adat Pakaian Adat Mandailing img Dalam membicarakan budaya Sumatera Utara ini, selanjutnya yang tidak kalah menariknya adalah mengenal baju adat Sumatera Utara. Berbicara tentang pakaian adat Sumatera Utara, Anda akan diperkenalkan dengan baju tenun yang indah dan unik. Tempat pembuatan kain tenun ini ada di daerah Tapanuli Utara yang merupakan bagian dari kawasan Sumut. Tenunan tradisional Tapanuli ini dikenal dengan nama kain ulos. Kain ulos ini disediakan dengan berbagai variasi yang unik dan khas, seperti Ulos Sibolang, Ulos Godang, Sitoluntoho, Mangiring, Ragi Hidup, Ragi Hotang, dan Sadum. Pada Upacara Adat bagi kaum pria mengenakan tutup kepala yang dinamakan sabe-sabe dari jenis Ulos Mangiring. Pada bahu juga ditambahi dengan sampiran Ulos Ragi Hotang dan dengan mengenakan kain sarung. Sedangkan bagi kaum wanita, mengenakan Ulos Sadum yang disampirkan pada bagian kedua bahunya dengan cara dililit dengan Ulos Ragi Hotang dan tidak lupa untuk mengenakan sarung suji. Macam macam pakaian adat Sumatera Utara Batak Toba. Mandailing. Nias. Simalungun. Pakpak. Melayu. Karo. 3. Tarian Adat Tari Sigale Gale img Berbicara tentang kebudayaan Sumatera Utara, erat hubungannya untuk mengenal nama-nama tarian adat yang mewarnai kebudayaan Sumatera. Ada lebih dari dua tarian adat yang dapat Anda jumpai saat berkunjung ke sini. Seperti Tari Serampang Dua Belas, Tari Tor-tor, Tari Marsia Lapari, dan Tari Manduda. Tari Serampang Dua Belas merupakan salah satu tarian adat Sumatera Utara yang paling terkenal. Tarian ini merupakan tarian melayu yang diiringi dengan irama musik joget. Dengan sentuhan pukulan-pukulan gendang ala Amerika Latin, Tari ini asyik sekali untuk dinikmati sambil berjoget ria. Berbeda dengan Tarian Tor-tor yang merupakan tarian daerah Batak dengan latar belakang falsafah peradatan yang disajikan dengan suguhan tarian indah yang menarik. Tidak kalah uniknya dengan Tarian Marsia Lapari. Tarian ini merupakan tarian yang menggambarkan kegiatan gadis-gadis di Provinsi Sumut yang senantiasa saling bahu-membahu dalam menggarap sawahnya. Tari Tradisional Sumatera Utara Tari Tradisional Khas Melayu- Deli – Tari Serampang Dua Belas – Tari Persembahan Tari Tradisional Khas Batak – Tari Tor – tor – Tari Sigale – gale – Tari Piso Surit Tari Tradisional Nias – Tari Fataele – Tari Moyo atau Tari Elang – Tari Maena Baca juga Budaya Aceh Secara Umum dan Lengkap 4. Senjata Tradisional Senjata Tradisional Piso Gaja Tampak Untuk mengenal kebudayaan Sumatera Utara ini Anda wajib mengetahui senjata tradisional yang ada di Sumatera Utara yang dikenal dengan nama Piso Surut. Senjata ini jika dilihat dari bentuk dan rupanya mirip dengan sebuah pisau belati yang biasa Anda temui. Senjata tradisonal ini tepatnya menjadi senjata khas daerah Tanah Karo Sumatera Utara. Selain Piso Surut, ada juga Piso Gajah dompak yang berupa sebilah keris panjang yang unik dan khas. Piso Gajah Tombak merupakan lambang penting dari pemerintahan Raja Singamaraja. Senjata tradisional ini hanya boleh digunakan oleh Sang Raja. Sedangkan senjata tradisional Sumatera Utara yang biasa digunakan oleh masyarakat biasa dikenal dengan nama hujur. Hujur ini berbentuk seperti sejenis tombak dan ponding sejenis pedang yang panjang. Senjata Tradisional Sumatera Utara Piso Gaja Dompak. Tongkat Tunggal Panaluan. Hujur Siringis. Piso Silima Sarung. Piso Sitolu Sasarung. Piso Karo. Piso Gading. Piso Sanalenggam. Piso Toba. 5. Suku Bangsa Suku Batak facebook Ada beragam suku yang bisa Anda temui saat berada di Sumatera Utara seperti Suku Melayu, Suku Batak, Suku Nias dan masih banyak lagi. Dari berbagai suku ini memiliki gaya dan ragam bahasa yang berbeda. Jangan kaget saat Anda mendengar bagaimana mereka berbicara dengan bahasa dan logat yang pasti terdengar asing di telinga. Suku Asli Sumatra Utara Suku Angkola. Suku Batak. Suku Batak Pakpak. Suku Mandailing. Suku Mandahiling. Suku Nias. Suku Pesisir. Siladang. Suku Simalungun. Baca juga Sejarah Singkat Kerajaan Sriwijaya beserta Peninggalannya 6. Lagu Daerah Selanjutnya, budaya Sumatera Utara yang wajib Anda tahu adalah dari tentang kesenian lagu daerah. Seperti yang Anda tahu, masing-masing daerah memiliki lagu daerahnya masing-masing, tidak terkecuali untuk daerah Sumatera Utara. Sumatera Utara memiliki beberapa lagu daerah yang unik dan indah dengan nada khas dan bahasa yang khas juga. Sebut saja lagu Butet yang kini banyak dinyanyikan oleh anak-anak di seluruh Nusantara. Umumnya pengenalan lagu dari masing-masing daerah yang ada di Nusantara dikenalkan sejak masih ada di bangku sekolah dasar. Hal ini akan rasa cinta terhadap tanah air menjadi semakin kokoh dan dalam. Selain lagu Butet tadi, Sumatera Utara juga masih mempunyai lagu-lagu daerah yang lainnya seperti Pantun Lama dan Sengko-Sengko. Ketiga lagu ini mempunyai nada segi bahasa yang menarik untuk Anda pelajari agar semakin dekat dengan kebudayaan Nusantara khususnya yang ada di Sumatera dengan mengenal kebudayaan Sumatera Utara ini. Lagu Daerah Sumatera Utara Anju Ahu. Butet. Cikala Le Pongpong. Dago Inang Sarge. Ketabo. Leleng Ma Hupaima. Lisoi. Madekdek Magambiri. Mariam Tomong. Nasonang Dohita Nadua. 7. Bahasa Daerah Untuk mengenal ciri khas budaya Sumatera Utara, tidak lengkap rasanya jika belum tahu nama-nama bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat Sumatera Utara Sendiri. Sumatera Utara Memiliki bahasa beberapa bahasa yang biasa digunakan dalam berkomunikasi di sana. Seperti Bahasa Batak, Bahasa Karo, Bahasa Nias, Bahasa Mondaling dan lain-lain. Sungguh indah bukan 7 dari 10 kebudayaan Sumatera Utara ini?. Bagi Anda yang berencana untuk berkunjung ke sana, jangan lupa untuk mengunjungi pusat pembuatan baju adatnya yang ada di daerah Tapanuli supaya kunjungan lebuh puas dengan melihat secara langsung bagaimana cara pembuatan baju adatnya ini. Tidak lupa persiapkan diri Anda untuk menyaksikan keindahan tarian khasnya yang menarik dan mempesona. Wakil Gubernur Sumatera Selatan Mawardi Yahya menerima sertifikat penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2018, meliputi 7 Karya Budaya yang ada di Provinsi Sumsel. Sertifikat tersebut diserahkan langsung Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud RI, Hilmar Farid kepada Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya pada acara Apresiasi Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2018 di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu malam 10/10/2018. Kegiatan apresiasi penetapan warisan budaya takbenda Indonesia merupakan puncak dari serangkaian kegiatan penetapan warisan budaya takbenda Indonesia yang bertujuan untuk melestarikan, melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan budaya Indonesia. Karya Budaya Sumsel yang ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda Indonesia yaitu pertama Adat Timbang Kepala Kebo, merupakan adat istiadat masyarakat ritus dan perayaan-perayaan. Kedua, Ngobeng, merupakan adat istiadat masyarakat ritus dan perayaan-perayaan. Ketiga, Tari Kebagh, merupakan seni pertunjukan. Keempat, Tari Silampari Kahyangan Tinggi, merupakan seni pertunjukan. Kelima, Pindang Palembang, merupakan kemahiran dan kerajinan tradisional. Keenam, Tikar Purun Pedamaran, merupakan kemahiran dan kerajinan tradisional. Ketujuh, Surat Ulu, merupakan tradisi dan ekspresi lisan. "Penetapan warisan budaya takbenda Indonesia dilaksanakan melalui serangkaian tahapan yang dilaksanakan oleh Tim Ahli, Narasumber, Dinas Kebudayaan Provinsi se-Indonesia dan Balai Pelestarian Nilai Budaya," ungkap Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid dalam kata sambutannya. Lanjut Hilmar Farid, ada berbagai kondisi yang dihadapi oleh warisan budaya Indonesia diantaranya terancam punah dan warisan budaya yang ada di perbatasan rentan terhadap pengakuan oleh negara lain. "Kurangnya pelestarian warisan budaya takbenda akan berdampak pada hilangnya identitas sebagai bangsa berkebudayaan yang didalamnya terkandung nilai, makna yang luhur," tegas Hilmar. Hilmar Farid mengharapkan adanya timbal balik antara berbagai pihak terkait pelaksanaan penetapan warisan budaya takbenda Indonesia dan tindak lanjut setalah ditetapkan karena harus melakukan pelestarian dengan aksi nyata seperti yang diharapkan dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan. "Aksi nyata bisa dilakukan dalam rangka perlingungan, pengembangan, pemanfaatan serta pembinaan," ujarnya Sementara itu, Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya mengatakan, keragaman budaya yang ada di Sumsel harus terpeliharan dan terus dikembangkan. Pemerintah Provinsi Sumsel sudah berkomitmen penuh untuk hal itu bersama sama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota se-Sumsel. "Keberagaman budaya dibebagai daerah di Sumatera Selatan memang harus terus dikembangkan dan diangkat sampai ketingkat nasional," terang Mawardi Yahya. Selain Provinsi Sumsel, sejumlah daerah lainnya juga mendapatkan setifikat yang sama diantaranya Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu dan Provinsi Jambi. *